SERUAN MORAL TOKAH ADAT Ryan Latief La Kaseng Soroti Ancaman Bencana, Arah Kepemimpinan, dan Penolakan Komodifikasi Agama
SERUAN MORAL TOKAH ADAT Ryan Latief La Kaseng Soroti Ancaman Bencana, Arah Kepemimpinan, dan Penolakan Komodifikasi Agama

Warapsari.com-SERUAN MORAL TOKAH ADAT Ryan Latief La Kaseng Soroti Ancaman Bencana, Arah Kepemimpinan, dan Penolakan Komodifikasi Agama
MAKASSAR — Ketua Lembaga Adat Pasukan To Manurung, Ryan Latief La Kaseng, menyampaikan seruan moral mendalam terkait eskalasi ancaman bencana ekologis, arah kepemimpinan nasional, serta maraknya komodifikasi nilai-nilai keagamaan di Indonesia.
Peringatan Bencana dan Kritik Eksploitasi Oligarki
Ryan Latief mengimbau masyarakat dan pemerintah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana geologis serta aktivitas vulkanik di kawasan Nusantara, khususnya Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, dan wilayah sekitarnya.
Ia menyoroti bahwa maraknya bencana banjir hingga tanah longsor merupakan konsekuensi langsung dari tindakan merusak lingkungan yang didorong oleh keserakahan kelompok oligarki.
“Bencana alam timbul dari ulah manusia itu sendiri. Kerusakan alam dan penggundulan hutan terjadi akibat keserakahan para penguasa oligarki yang menguasai lahan tanpa mempertimbangkan keberlangsungan hidup masyarakat adat di atas tanah Nusantara,” tegas Ryan.
Pesan Kebangsaan dan Ancaman Budaya ABS.Terkait kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Ryan mengajak para ulama, tokoh agama, dan pemangku adat untuk mendoakan pimpinan nasional agar tetap memegang teguh amanah rakyat. Ia memperingatkan bahaya jika lingkaran kekuasaan didominasi oleh pihak-pihak yang membudayakan sikap “asal bapak senang” (ABS).
Sepeninggal figur patriotik seperti Almarhum Jenderal (Purn) Djoko Santoso dan Almarhum Jenderal (Purn) George Toisutta, benteng moral kepemimpinan nasional dinilai sangat vital agar arah kebijakan tidak melenceng.
Kecaman Atas Stigma dan Literatur “Islam ala Prabowo”
Sikap kritis mendalam juga dilayangkan Ryan Latief terhadap wacana serta peredaran literatur berlabel “Islam ala Prabowo”.
Ia menekankan bahwa Islam merupakan wahyu suci universal yang melampaui sekat personal maupun kedaerahan, sehingga sangat tidak layak dijadikan alat komodifikasi politik.
“Islam tidak bisa dipermainkan seperti label masakan ala daerah. Ini wahyu suci.
Kami mengimbau agar wacana dan peredaran buku tersebut segera dihentikan, serta mendesak adanya klarifikasi resmi dari Presiden Prabowo agar tidak memicu pembelahan umat,” ujarnya.Seruan Taubat Nasional dan Konsolidasi Kebangsaan.
Menutup keterangannya, Ryan Latief mengimbau seluruh komponen bangsa untuk mempererat persatuan, merapatkan barisan, serta memperbanyak doa dan taubat secara kolektif demi memohon perlindungan Tuhan Yang Maha Esa bagi keselamatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).




